Informatika

Power Of Dream

NENO WARISMAN : MAHALNYA PENDIDIKAN

Artis kenamaan Hj Neno Warisman menyindir mahalnya pendidikan tinggi,
saat membacakan puisi "Afala Ta`qilun" dalam "Halal Bi Halal" Keluarga
Besar ITS Surabaya, kemarin (16-12-2007 - red).

"Isu pendidikan selalu laris dijual para calon
presiden, tapi anak-anak marjinal tetap kesulitan. Karena biaya
pendidikan tinggi semakin tak terjangkau,"
katanya dalam salah satu bait puisinya.

Puisi religi yang dibaca dengan penuh penghayatan itu, juga
menyentil makna "Halal Bi Halal" yang sering disalahgunakan para
pejabat.

"Tak hilang rasa marahku dengan `Open House` (Halal Bi Halal),
sampai (kesejahteraan) rakyat terjamin. Apalagi `Open House` mereka itu
dibiayai rakyat miskin," katanya.

Di hadapan rektor ITS, Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD dan guru besar
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr
Ahmad Satori Ismail selaku penceramah, artis kelahiran Banyuwangi,
Jatim itu pun menyindir mahasiswa.

"Saya bertanya kepada mahasiswa dari universitas-universitas ternama
tentang siapakah ibu pertiwi," kata mantan pelantun tembang "Nada
Kasih" bersama Fariz RM itu.

Tapi, katanya, jawaban para mahasiswa dari universitas-universitas
andalan itu umumnya menyamakan ibu pertiwi dengan bangsa, negara, dan
Tanah Air.

"Padahal, ibu pertiwi adalah rakyat, rakyat miskin, bukan negara,
bangsa, atau Tanah Air. Rakyat miskin yang selama ini tak menikmati
kemerdekaan dan pembangunan," katanya menegaskan.

Dalam puisi panjang dalam kurun 20 menit itu, Neno juga mengajak
para hadirin untuk merenungkan pentingnya memanfaatkan ilmu untuk
kemaslahatan bangsa.

"Alangkah luhurnya bila ilmu yang telah kita
serap selama belajar di sebuah universitas (apalagi ternama) bisa
membantu kesejahteraan masyarakat banyak. Tak akan sia-sia ilmu itu
akhirnya,"
katanya memaparkan.

sumber: www.antara.co.id

Mereka tidak takut negara israel

         
         

            
 

    Yaser Zaaterah
 

 

    Harian Dostor Jordania
 

 

Ini
sebuah judul tulisan penasehat Sharon, Dove Faisgalas beberapa hari
lalu di harian Yediot Aharonot. Ia membicarakan sejumlah indikasi
perundingan soal tawanan dengan Hizbullah dan Hamas di satu sisi dan
antara Israel di sisi lain.

 

Dalam
tulisan itu banyak pandangan yang penulisnya tidak sendirian di media
Israel. Ia membicarakan kolom dan analisis yang dibicarakan oleh tokoh
Israel dimana pasukan Israel dan kemampuannya tidak lagi memiliki
kekuatan. Bukan saja sejak kekalahan di Juni 2006 dengan Hizbullah
Libanon tapi sebelumnya sudah lemah. TV 10 Israel menyebutkan bahwa
sepertiga pasukan Israel yang ikut dalam perang mengalami tekanan jiwa.

 

Penulis di atas membicarakan hinaan
yang dilakukan Hasan Nasrullah terhadap Mossad dan keyakinannya bisa
menculik pasukan Israel dan perundingan dengan Israel soal tawanan
Hizbullah dan syarat dikembalikannya mereka. Yang paling penting dari
ini adalah jaminan penulis ini bahwa Israel pasti lemah dan bahwa
Israel sebagai negara yang tidak layak ditakuti.

 

Penulis
kemudian mengatakan, dulu dibanggakan oleh para moyang Israel, namun
kin Mossad dilecehkan oleh Hasan Nasrullah untuk kemudian dikirim ke
neraka. Ia mengatakan, Israel hari ini tidak sama dengan Israel
kemarin. 

 

Soal Hamas, penasehat
Sharon ini mengatakan, roket-roket yang mereka lepaskan tanpa gentar
sedikitpun telah memaksa Israel membebaskan blokade dari Jalur Gaza.
Hamas menahan serdadu Israel dan memainkan perundingan soal
pembebasannya. Ia menambahkan, meski dalam keadaan sengsara, tapi
pengikut Hamas berundingan dengan dan mampu mengancam serta meminta
syarat-syarat. Jadi, benar-benar tidak ada seorang pun yang takut
kepada Israel.

 

Ia menilai bahwa
senyuman Hasan Nasrullah dan penunjukan telunjuk Sami Abu Zuhri
menunjukkan tidak ada rasa gentar kepada Israel. Namun ia mengatakan,
kondisi mental dunia ini memiliki arti penting terhadap keamanan
nasional sebab Israel yang lemah secara zahir merupakan tragedi. Jika
tidak ada negara yang gentar dengan Israel maka sangat sulit
mengamankan negara penjajah itu.

 

Itulah
gambaran baru negara Israel. Apa yang dikatakan oleh penulis Israel ini
adalah hakikat yang tidak bisa dilihat oleh pihak yang kalah yaitu
Israel sendiri. Di sini ada entitas negara yang tidak paham kecuali
bahasa kekuatan. Sementara di sini lain, kelompok perlawanan semakin
kuat.

 

Untuk kesekian ribu kalinya
kita mengatakan; proyek zionisme kini mengalami kemunduran. Jika yang
kalah “Israel” untuk melihat hakikat maka umat tidak akan memberikan
kesempatan untuk kepada mereka (Israel) untuk mengalahkan mereka dalam
kondisi apapun. (bn-bsyr)